PENGERTIAN
,JENIS2,FUNGSI LAPORAN KEUANGANBANK Laporan keuangan adalah ikhtisar mengenai
keadaan keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu yang berisi informasi
tentang presentasi perusahaan di masa lampau dan dapat memberikan petunjuk
untuk penetapan kebijakan di masa yang akan datang. Jenis-jenis laporan
keuangan adalah sebagai berikut : 1. NERACA BANK Neraca (Balance Sheet)
merupakan laporan yang menggambarkan jumlah kekayaan (harta), kewajiban
(hutang), dan modal dari suatu perusahaan pada saat / tanggal tertentu. Dibawah
ini merupakan contoh ilustrasi neraca pada PT. Purnama Realindo Tbk pada
tanggal 31 Maret 2006. Isi neraca secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Asset : kekayaan atau sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan dan diharapkan
akan memberikan manfaat dimasa yang akan datang. * Asset lancar : uang tunai
dan saldo rekening giro di bank serta kekayaan-kekayaan lain yang dapat
diharapkan bisa dicairkan menjadi uang tunai atau rekening giro bank, atau
dijual maupun dipakai habis dalam operasi perusahaan, dalam jangka pendek (satu
tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan). Yang termasuk aset lancar:
Kas (saldo uang tunai pada tanggal neraca), Bank (saldo rekening giro di bank
pada tanggal neraca), Surat berharga jangka pendek, Piutang, Persediaan (barang
berwujud yang tersedia untuk dijual, di produksi atau masih dalam proses),
Beban dibayar dimuka. * Investasi jangka panjang (long term investment) :
Terdiri dari aset berjangka panjang (tidakuntuk dicairkan dalam waktu satu
tahun atau kurang) yang diinvestasikan bukan untuk menunjang kegiatan operasi
pokok perusahaan. Misalnya: penyertaan pada perusahaan dalam bentuk saham,
obligasi atau surat berharga, dana untuk tujuan-tujuan khusus (dana untuk
pelunasan hutang jangka panjang), tanah yang dipakai untuk lokasi usaha. * Aset
Tetap (Fixed Asset) : Aset berwujud yang digunakanuntuk operasi normal
perushaan, mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau satu siklus
operasi normal dan tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai barang dagangan.
Misalnya: tanah untuk lokasi baru, gedung, mesin-mesin dan peralatan produksi,
peralatan kantor, kendaraan. * Aset Tak Berwujud (Intangible Asset) : Terdiri
hak-hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam memperoleh
pendapatan, Misal: hak paten, hak cipta, franchise, merk dagang atau logo dan
goodwill. * Aset lain-lain (Other Asset) : Untuk menampung aset yang tidak bisa
digolongkan sebagai aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan aset
tetap tak berwujud. Misalnya; mesin yang tidak dipakai dalam operasi. b.
Kewajiban dapat digolongkan menjadi : * Kewajiban Lancar (current liabilities)
: Kewajiban lancara meliputi kewajiban yang harus diselesaikan dalam jangka
pendek atau jangka satu tahun atau jangka satu siklus operasi normal
perusahaan. Misalnya: hutang usaha, beban yang harus masih dibayar, pendapatan
yang diterima dimuka, utang pajak, utang bunga. * Kewajiban Jangka Panjang
(long – term debts) : Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang jatuh
temponya melebihi satu periode akuntansi atau lebih dari satu tahun. Misalnya:
utang hipotik, utang obligasi. * Kewajiban lain-lain : Adalah kewajiban yang
tidak bisa digolongkan ke kewajiban lancer dan kewajiban jangka panjang. c.
Ekuitas : Menunjukkan hak milik para pemilik aset perusahaan yang diukur atau
ditentukan besarnya dengan menghitung selisih antara aset dan kewajiban. Jenis
ekuitas berdasarkan bentuk perusahaan : * Perusahaan perorangan * Perusahaan
persekutuan * Perusahaan perseroan 2. LAPORAN RUGI / LABA BANK Laporan rugi /
laba (income statement) merupakan laporan yang menggambarkan jumlah penghasilan
atau pendapatan dan biaya dari suatu perusahaan pada periode tertentu. Ada dua
pendekatan sebagai dasar dalam dan menggolongkan, serta mengikhtisarkan
transaksi transaksi yang terjadi dalam perusahaan, kedua pendekatan itu adalah:
* Dasar Tunai (Cash Basis) : Suatu sistem yang mengakui penghasilan pada saat
uang tunai diterima dan mengakui beban pada saat mengeluarkan uang tunai.
Metode ini cocok untuk perusahaan dengan skala kecil, karena mentode ini kurang
tepat untuk mengakui laba atau rgi laba pada period tertentu. * Dasar Waktu (
Akrual Basis ) : Yaitu suatu sistem yang mengakui pendapatan pada saat
terjadinya transaksi, walaupun sudah atau belum menerima uang tunai dan
mengakui beban pada saat terjadinya transaksi walaupun sudah atau belum
mengeluarkan uang tunai. Metode ini sangat tepat untuk perusahaan yang
melakukan transaksi secara kredit, karena laporan laba-rugi akan mencerminkan
kondisi yang benar selama satu periode tertentu. Dalam laporan laba-rugi,
terdapat tiga rekening (akun) yang perlu dipahami dengan jelas, yaitu: *
Pendapatan : Adalah penghasilan yang timbul dari pelaksanaan akitivitas
perusahaan yang biasa (reguler) dan dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda,
seperti; penjualan, penghasilan jasa (fee), bunga, deviden, royalti dan sewa. *
Beban : Adalah pengorbanan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa
(reguler), seperti beban pokok penjualan, beban gai, beban sewa, beban
penyusutan aset tetap, beban asuransi, beban pajak, beban kerugian piutang,
beban perlengkapan. * Laba / Rugi : Laba terjadi bila pendapatan lebih besar
dari beban-beban yang terjadi, sebaliknya rugi terjadi bila pendapatan lebih
kecil dari pada beban-beban yang terjadi. Untuk perusaahaan jasa, meliputi
pendapatan atau penghasilan, beban operasi, laba operasi, pendapatan lain-lain,
beban lain-lain, laba bersih, pajak penghasilan, laba bersih setelah pajak.
Dalam laporan laba-rugi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Pendapatan; hasil dari pemberian jasa yang diberikan kepad pelanggan yang
merupakan mata usaha pokok dan normal perusahaan. Misalnya; untuk perusahaan
konsultan, maka pendapatannya berasal dari fee yang diberikan oleh pelanggan.
Pendapatan salon kecantikan adalah ongkos yang pelayanan salon kepada
pelanggannya, pendapatan rental komputer adalah sewa yang dibayar oleh
pelanggan. Beban operasi, semua beban yang dikeluarkan atau terjadi dalam
hubungannya dengan aktifitas operasi perusahaan. Misalnya; beban telepon, beban
listrik dan telepon, beban rapat, beban suplies, beban penyusutan dan
sebaginya. Laba operasi, merupakan selisih antara pendapatan dan beban operasi,
sedangkan pendapatan dan beban lain-lain merupakan pendapatan diluar pendapatan
pokok perusahaan, seperti pendapatan bunga. Beban lain-lain adalah beban yang
tidak berkaitan dengan kegiatan operasi pokok perusahaan, seprti rugi penjualan
aset tetap dan beban bunga. Laba bersih sebelum pajak, merupakan hasil
pengurangan labs operasi dengan pendapatan dan beban lain-lain di luar operasi
dan laba bersih setelah pajak yaitu pendapatan bersih perusahaan baik yang
berasal dari kegiatan operasional perusahaan maupun non operasional, setelah
dikurangi pajak penghasilan. 3. LAPORAN KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF Aktiva
diartikan sebagai jasa yang akan datang dalam bentuk uang atau jasa mendatang
yang dapat ditukarkan menjadi uang (kecuali jasa-jasa yang timbul dari kontrak
yang belum dijalankan kedua belah pihak secara sebanding) yang didalamnya
terkandung kepentingan yang bermanfaat yang dijamin menurut hokum atau keadilan
bagi orang atau sekelompok orang tertentu. Aktiva juga diartikan sebagai
manfaat ekonomi yang sangat mungkin diperoleh atau dikendalikan oleh entitas
tertentu pada masa mendatang sebagai hasil transaksi atau kejadian masa lalu
(Marianus Sinaga, 1997). Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) pada bagian
kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, manfaat ekonomi masa
depan yang terwujud dalam aktiva adalah potensi dari aktiva tersebut untuk
memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara
kas kepada perusahaan. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif
dan merupakan bagian dari aktivas operasional perusahaan. Mungkin pula
berbentuk sesuatu yang dapat diubah menjadi kas atau setara kas atau berbentuk
kemampuan untuk mengurangi pengeluaran kas, seperti penurunan biaya akibat
penggunaan proses produksi alternatif. Sesuai dengan namanya aktifa produktif
(earning assets) adalah aktiva yang menghasilkan kontribusi pendapatan bagi
bank. Contoh Kasus Aktiva Produktif Pada Bank Syariah Sama halnya dengan
perbankan konvensional, keberlangsungan usaha bank syariah sangat dipengaruhi
oleh kualitas penanaman dana (aktiva produktif) yang dilakukan. Dalam perbankan
syariah, yang dimaksud dengan aktiva produktif adalah penanaman dana bank
syariah baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk : * Pembiayaan yaitu
penyediaan dana dan atau tagihan berdasarkan akad mudaharabah dan atau
pembiayaan lainnya berdasarkan prinsip bagi hasil. * Piutang yaitu tagihan yang
timbul dari transaksi jual beli dan atau sewa berdasarkan akad murabahan,
salam, istishna dan atau ijarah. * Qardh yaitu penyediaan dana ataru tagiahan
antara bank syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam
melakukan pembayaran sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu. * Surat
berharga syariah yaitu surat bukti berinvestasi berdasarkan prinsip syariah
yang lazim diperdagangkan dipasar uang dan atau pasar modal antara lain wesel,
obligasi syariah, sertifikasi reksadana syariah dan surat berharga lainnya
berdasarkan prinsip syariah. * Penempatan yaitu penanaman dana bank syariah
pada bank syariah lainnya dan atau bank perkreditan rakyat berdasarkan prinsisp
syariah antara lain dalam bentuk giro dan atau tabungan wadiah, deposito
berjangka dan atau tabungan muharabah, pembiayaan yang diberikan, sertifikat
investasi mudharabah antar bank (IMA) dan atau bentuk-bentuk penempatan lainnya
berdasarkan prinsip syariah. * Penyertaan modal yaitu penanaman dana bank
syariah dalam bentuk saham pada perusahaan yang bergerak dibidang keuangan
syariah termasuk peneneman dalam bentuk surat utang konversi (convertible
bonds) dengan opsi saham (equity options) atau jensi transakasi tertentu
berdasarkan prinsisp syariah yang berakibat bank syariah memiliki atau akan
memiliki saham pada perusahaan yang bergerak dibidang keuangan syariah. *
Penyertaan modal sementara yaitu penyertaan modal bank syariah dalam perusahaan
nasabah untuk mengatasi kegagalan pembiayaan dan atau piutang (debt to equity
swap) sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang berlaku termasuk
dalam bentuk surat utang konversi (convertible bonds) dengan opsi saham (equity
options) atau jenis transaksi tertentu yang berakibat bank syariah memiliki
atau akan memiliki saham pada perusahaan nasabah. * Transaksi rekening administrasi
yaitu komitmen dan kontijensi (off balance sheet) berdasarkan prinsip syariah
yang terdiri atas bank garansi, akseptasi (endorsemen), irrevocable letter of
credit (L/C) dan garansi lain berdasarkan prinsip syariah. * Sertifikasi Wadiah
Bank Indonesia (SWBI) yaitu sertifikat yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip wadiah. Kualitas
semua bentuk penanaman dana (aktiva produktif) diatas menjadi standar
pengukuran kinerja bank syariah. Untuk menjaga kinerja yang baik dan
pengembangan usaha yang senantiahsa sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan
prinsip syariah maka kualitas aktiva produktif perlu dijaga. Salah satu cara
menjaga kualitas aktiva produktif adalah dengan menerapkan kebijakan alokasi dana
baik menurut sector ekonomi, sektro industri maupun wilayah pemasaran. Misalnya
sekian persen untuk pembiayaan sektor industri manufaktur, sekian persen untuk
perdagangan dan sekian untuk penyertaan. Demikian juga dengan rasio antara
pembiayaan dan sumber-sumber daya dengan memperhatikan penyebaran sumber daya
dan penyebaran resiko sehingga aktiva produktif perusahaan benar-benar dapat
menjadi kontribusi pendapatan bagi bank tersebut. 4. LAPORAN KOMITMEN DAN
KONTIGENSI Komitmen bank adalah suatu ikatan atau kontrak atau berupa janji
yang tidak dapat dibatalkan (irrevocable) secara sepihak oleh bank, baik dalam
rupiah maupun valuta asing, dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang
disepakati bersama dipenuhi. Komitmen ini dapat bersifat tagihan ataupun
kewajiban bagi bank. Komitmen tagihan adalah komitmen yang diterima oleh bank
dari pihak lain, sedangkan komitmen kewajiban adalah komitmen yang diberikan
oleh bank kepada nasabah dan atau pihak lain. Tagihan komitmen antara lain : *
Fasilitas pinjaman yang diterima dari pihak lain yang belum ditarik * Posisi
pembelian valuta asing dll. Kewajiban komitmen antara lain : * Fasilitas kredit
kepada nasabah yang belum ditarik * Fasilitas kredit kepada bank lain yang
belum ditarik * Irrevocable L/C yang masih berjalan * Posisi pembelian valuta
asing dll Kontigensi adalah suatu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian
mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu perusahaan , yang
baru akan terselesaikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih
peristiwa dimasa yang akan datang. Pengungkapan akan peristiwa kontigensi
diharuskan dalam laporan keuangan. Azas Konservatif dalam Kontigensi
Pengungkapan data transaksi kontigensi dalam laporan keuangan dikaitkan dengan
penerapan konsep atau azas konservatif atau berhati-hati dalam prinsip
akuntansi. Yang dimaksud disini adalah bahwa penyisihan suatu rugi kontigensi
dapat dilakukan pada perhitungan rugi-laba bila kedua kondisi berikut dipenuhi
: a) Terdapat petunjuk yang kuat bahwa telah terjadi penurunan nilai suatu
aktiva atau telah timbul kewajiban pada tanggal neraca. b) Jumlah kerugian
dapat ditaksir secara wajar. Jenis Transaksi Kontigensi Dalam transaksi bank
dapat ditemukan beberapa jenis transaksi kontigensi seperti : garansi bank, letter
of credit yang dapat dibatalkan (revocable) yang masih berjalan, transaksi opsi
valuta asing, pendapatan bunga dalam penyelesaian. Semua jenis transaksi
tersebut apabila ditemukan dalam transaksi sehari-hari wajib untuk dilaporkan
dalam laporan keuangan melalui rekening administrative, yang dapat berupa
tagihan maupun kewajiban. Garansi Bank Salah satu jenis transaksi kontigensi
yang paling sering ditemukan dalam transaksi bank adalah Garansi Bank. Garansi
Bank adalah semua bentuk garansi atau jaminan yang diterima atau diberikan oleh
bank yang mengakibatkan pembayaran pada pihak yang menerima jaminan apabila
pihak yang dijamin bank wanprestasi atau cidera janji. mengetahui kesehatan
bank dan mengetahui kondisi keuangan bank dilihat dari laporan keuangan yang
disajikan oleh bank secara periodik. Dalam laporan keuangan yang dibuat bank
menggambarkan kinerja bank selama periode tertentu. Pengolahan laporan keuangan
dibuat sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Analisis yang digunakan
dalam hai ini menggunakan rasio-rasio keuangan sesuai dengan standar yang
berlaku, yaitu: 1. Rasio likuiditas 2. Rasio solvabilitas 3. Rasio
rentabilitas. Penjelasan RASIO LIKUIDITAS Rasio ini digunakan untuk mengukur
kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Dengan catatan semakin
besar rasio likuiditas maka semakin likuid. Perhitungan rasio likuiditas dengan
cara: 1. Quick Ratio (mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya pada
para deposan (pemilik giro, tabungan dan deposito) dengan harta yang paling
likuid. Rumus : QR = (Cash asset) / (Total Deposit) x 100% 2. Investing Policy
Ratio (mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada para
deposannya dengan cara melikuidasi SB) Rumus : IPR = (Securities) / (Total
deposit) x 100% 3. Banking Ratio ( mengukur tingkat likuiditas bank dengan
membandingkan jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah deposit yang
dimilki). Catatan: semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah tingkat
likuiditas bank. Rumus : BR = (Total Loans) / (total deposit) x 100% 4. Assets
to Loan Ratio ( mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan harta yang
dimiliki bank Catatan: semakin tinggi rasio ini semakin rendah tingkat
likuiditas bank. Rumus : ALR = (Total Loans) / (Total Assets) x 100% 5. Cash
Ratio (mengukur kemampuan bank melunasi kewajiban yang harus segera dibayar
dengan harta likuid bank. Rumus : CR = (liquid assets) / (short term borrowing)
x 100% 6. Loan to Deposit Ratio (mengukur komposisi kredit yang diberikan
dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri. Catatan :Besarnya
LDR menurut aturan pemerintah maksimum 110% Rumus : LDR = (total Loans) /
(total deposit + equity) x 100% RASIO SOLVABILITAS Rasio ini digunakan mengukur
kemempuan bank mencari sumber dana untuk membiayai kegiatan bank atau alat ukur
untuk melihat kekayaan bank serta melihat efisiensi pihak manajemen bank.
Perhitungan rasio ini dilakukan dengan cara : 1. Primary Ratio (mengukur
permodalan yang dimiliki bank memadai atau sejauh mana penurunan yang terjadi
dalam total asset masuk dapat ditutupi oleh capital equity). Rumus : PR =
(Equity capital) / (total assets) x 100% 2. Risk Assets Ratio (mengukur
kemungkinan penurunan risk assets. Rumus : RAR = (Equity caital) / (total
assets – cash assets – securities) x 100% 3. Secondary Risk Ratio ( Mengukur
penurunan asset yang mempunyai resiko lebih tinggi). Rumus : SRR = (Equity
capital) / (Secondary risk assets) 100% 4. Capital Ratio (mengukur permodalan
dan cadangan penghapusan dalam menanggung perkreditan, terutama resiko yang
terjadi karena ada kegagalan dalam menagih bunga bank). Rumus : CR = (equity
capital + reserve for loan losses) / (total loans) x 100% RASIO RENTABILITAS
(pofitabiitas usaha) Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha
dan profitabilitas yang dicapai oleh bank. Perhitungan rasio ini dilakukan
dengan cara : 1. Gross Profit Margin (mengukur presentasi laba dari kegiatan
usaha murni bank setelah dikurangi biaya-biaya) Rumus : GPM = (operating income
– operating expense) / (operating income) x 100% 2. Net Profit Margin (mengukur
kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokok bank)
Rumus : NPM = (net income) / (operating income) x 100% 3. Return Equity Capital
atau ROE (mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengeola capital yang ada
untuk mendapatkan net income) Rumus : ROE = (net income) / (equity income) x
100% 4. Return on Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengelola assets). Ada 2 cara yang dihitung antara lain: a. Gross Yield on
Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank menghasilkan income dari
pengelolaan asset) Rumus : GRTA = (operating income) / (total assets) x 100% b.
Net Income Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
profitabilitas dan manajerial secara overall). Rumus : NITA = (net income) /
(total assets) x 100% 5. Rate Return on Loans (mengukur kamampuan manajemen
bank mengelola kredit bank) Rumus : RRL = (interest income) / (total loans) x
100% 6. Interest Margin on Earning Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengendalikan biaya-biaya) Rumus : IMEA = (interest income – interest expense)
/ (earning assets) x 100% 7. Leverage Multiplier (mengukur kemampuan manajemen
bank dalam mengelola asetnya, dalam hal ini adanya biaya-biaya yang dikeluarkan
dalam penggunaan aktiva bank) Rumus : LM = (total Assets) / (total equity) 8.
Interest Margin on Loans Rumus: IML = (Interest income – Interest expense) /
(total loans) x 100% 9. Assets Utilization ( mengukur sejauh mana kemempuan
manajemen bank mengelola asset dalam rangka menghasilkan operating income dan
non-operating income) Rumus : AU = (operating income + non operating income) /
(total asset) x 100% 10. Interest Expense Ratio (mengukur besarnya persentase
bunga yang dibayar kepada para deposan bank dengan total deposit yang ada di
bank) Rumus : IER = (interest expense) / (total deposit) x 100% 11. Cost of
Fund (mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan bank untuk sejumlah deposit
bank). Rumus : CF = (interest expense) / (total assets) x 100%
contoh Laporan Keuangan Bank (laporan laba-rugi): PT. BANK INDAH RUGI
BANJARMASIN LAPORAN LABA-RUGI PER 31 DESEMBER 2013 (dalam jutaan rupiah)
Pendapatan dan Beban Operasional Pendapatan Bunga a. Hasil Bunga 456.000 b.
Provisi & Komisi Kredit 48.000 Jumah Pendapatan Bunga 504.000 Beban Bunga
a. Beban bunga 255.000 b. Beban lain-lain 21.000 Jumlah Beban Bunga (276.000)
Pendapatan Bunga Bersih 228.000 Pendapatan Operasional Lainnya a. Provisi dan
komisi selain kredit 27.000 b. Pendapatan Valas 690.000 c. Pendapatan lainnya
16.500 Jumlah pendapatan operasional lainnya 733.500 Beban Operasional lainnya
a. Beban Administrasi & umum 59.250 b. Beban personalia 213.750 c. Beban
operasional valas 225.000 d. Beban penyisihan aktiva produktif 159.000 e. Beban
lainnya 9.000 Jumlah beban operasional lainnya (666.000) Pendapatan/beban
operasional bersih 295.500 Pendapatan dan Beban non Operasional Pendapatan non
operasional 37.500 Beban non operasional (30.600) Pendapatan non
operasinal/Beban non operasional 6.900 Laba-Rugi sebelum pajak 302.400 Taksiran
pajak penghasilan perusahaan/bank (86.400) Laba-Rugi tahun berjalan 216.000
Contoh Laporan Keuangan Bank (neraca) PT. BANK INDAH RUGI BANJARMASIN NERACA
PER 31 DESEMBER 2009 (dalam jutaan rupiah) AKTIVA Kas 136.800 Rekening giro
pada BI 961.200 Rekening giro pada BU (bank-bank lain) 330.000 Wesel, cek dan
tagihan lainnya 14.250 Efek-efek (surab berharga) 240.000 Deposito berjangka
450.000 Pinjaman yang diberikan (dalam mata uang dlm Negeri/Rp) 3.750.000
Aktiva dalam Valas a. Likuid 990.000 b. Pinjaman yang diberikan 1.620.000 c.
Lainnya 1.200.000 Penyertaan 15.750 Inventaris 132.000 Rupa-rupa 180.000 Jumlah
AKTIVA 10.020.000 PASIVA Kewajiban Rekening giro 2.506.500 Tabungan 450.750
Deposito berjangka 1.021.500 Kewajiban yang segera dibayar lainnya 122.250
Pinjaman yang diterima 1.530.000 Setoran jaminan 42.000 Kewajiban dalam Valas :
a. Segera dapat dibayar 2.176.500 b. Lainnya 1.215.750 Rupa-rupa 150.000 Jumlah
Kewajiban 9.215.250 Modal a. Modal disetor 2.250 b. Dana setoran modal 195.000
Cadangan umum 42.000 Cadangan lainnya 285.000 Sisa laba tahun lalu 64.500 Laba
tahun berjalan 216.000 Total Modal 804.750 Jumlah PASIVA 10.020.000
Dari Laporan Keuangan diatas hitunglah kesehatan bank menurut anaisis CAMEL
(capital, assets, management, earning dan liquidity)! Jawab : 1. Aspek Capital
(permodalan) Tingkat kecukupan modal dinyatakan dengan rasio kecukupan modal
(capital adequacy ratio). Hal ini diukur dengan 2 cara yaitu: a. Membandingkan
modal dengan dana-dana pihak ketiga b. Membandingkan modal dengan aktiva
beresiko Catatan: standar BI CAR minimal 8% dikatakan Bank sehat Jawab dengan
cara Membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga Rumus : CAR = (Modal dan
Cadangan) / (Giro + Deposito + Tabungan) x 100% Catatan : Bank dikatakan sehat
apabila hasil =/> 10% CAR = (804.750) / (2.506.500 + 1.021.500 + 450.750) x
100% CAR = (804.750 / 3.978.750) x 100% CAR = 20,22% Jawab dengan Membandingkan
modal dengan aktiva beresiko Rumus : CAR = (total Modal) / (Aktiva) x 100%
Catatan : CAR minimal 8% dikatakan bank sehat CAR = ( 804.750) / (122.250 +
1.530.000 + 42.000 + 2.176.500 + 1.215.750 + 150.000) x 100% CAR = (804.750) /
(5.236.500) x 100% CAR = 15,36 % 2. Aspek Assets Quality (kualitas aset)
Perhitungan ini dilakukan dengan cara : aAssets to Loan Ratio ( mengukur jumlah
kredit yang disalurkan dengan harta yang dimiliki bank Catatan: semakin tinggi
rasio ini semakin rendah tingkat likuiditas bank. Rumus : ALR = (Total Loans) /
(Total Assets) x 100% Total Loans : Pinjaman yang diberikan (dalam mata uang
dlm Negeri/Rp) Rp. 3.750.000 Pinjaman yang diberikan Valas Rp. 1.620.000 Jawab:
ALR = (3.750.000 + 1.620.000) / (10.020.000) x 100% ALR = 53,59% 3. Aspek
Management Dalam hal ini aspek yang dinilai adalah manajemen permodalan,
manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen
likuiditas. Perhitungannya sebagai berikut: a. Return Equity Capital atau ROE
(mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengeola capital yang ada untuk
mendapatkan net income) Rumus : ROE = (net income) / (equity income) x 100%
Jawab: Net Income = laba sebelum pajak – PPh ROE = (216.000) / (804.750) x 100%
ROE = 26,84% b. Gross Yield on Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank
menghasilkan income dari pengelolaan asset) Rumus : GRTA = (operating income) /
(total assets) x 100% Jawab : Operating income : Jumlah Pendapatan Bunga Rp.
504.000 Jumlah Pendapatan Operasi ainnya Rp. 733.500 GRTA = (504.000 + 733.500)
/ (10.020.000) x 100% GRTA = (1.237.500) / (10.020.000) x 100% GRTA = 12,35% c.
Net Income Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
profitabilitas dan manajerial secara overall). Rumus : NITA = (net income) /
(total assets) x 100% Jawab: NITA = (216.000) / (10.020.000) x 100% NITA = 2,
15% d. Rate Return on Loans (mengukur kamampuan manajemen bank mengelola kredit
bank) Rumus : RRL = (interest income) / (total loans) x 100% Jawab: Interest
income: Hasil Bunga + prvoisi & komisi kredit = 456.000 + 48.000 = 504.000
RRL = (504.000) / (3.750.000 + 1.620.000) x 100% RRL = (504.000) /(5.370.000) x
100% RRL = 9,38% e. Interest Margin on Earning Assets (mengukur kemampuan
manajemen bank dalam mengendalikan biaya-biaya) Rumus : IMEA = (interest income
– interest expense) / (earning assets) x 100% Jawab: Interest Expense = Beban
bunga + beban2 lain = 255.000 + 21.000 = 276.000 Earning Assets : Efek-efek
(surab berharga) 240.000 Deposito berjangka 450.000 Pinjaman yang diberikan
(dalam mata uang dlm Negeri/Rp) 3.750.000 Pinjaman yang diberikan 1.620.000
Penyertaan 15.000 = 6.075.750 IMEA = (504.000 – 6.075.750) / (6.075.750) x 100%
IMEA = 3,75% f. Interest Margin on Loans Rumus: IML = (Interest income –
Interest expense) / (total loans) x 100% Jawab: IML = (504.000 – 276.000) /
(5.370.000) x 100% IML = 4,24% g. Leverage Multiplier (mengukur kemampuan
manajemen bank dalam mengelola asetnya, dalam hal ini adanya biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam penggunaan aktiva bank) Rumus : LM = (total Assets) / (total
equity) x 1 kali Jawab: LM = (10.020.000) / (804.750) x 1 kali LM = 12,451 kali
h. Assets Utilization ( mengukur sejauh mana kemempuan manajemen bank mengelola
asset dalam rangka menghasilkan operating income dan non-operating income)
Rumus : AU = (operating income + non operating income) / (total asset) x 100%
Operating income : Jumlah Pendapatan Bunga Rp. 504.000 Jumlah Pendapatan
Operasi ainnya Rp. 733.500 Non operating income : 37.500 AU = (504.000 +
733.500 + 37.500) / (10.020.000) x 100% AU = 12,72% 4. Aspek Earning
(Rentabilitas) RASIO RENTABILITAS (pofitabiitas usaha) Rasio ini digunakan
untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh
bank. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan cara : a. Gross Profit Margin
(mengukur presentasi laba dari kegiatan usaha murni bank setelah dikurangi
biaya-biaya) Rumus : GPM = (operating income – operating expense) / (operating
income) x 100% Operating income : Jumlah Pendapatan Bunga Rp. 504.000 Jumlah
Pendapatan Operasi ainnya Rp. 733.500 = 1.237.500 Operating expenses = Total
beban bunga + total beban operasinal lainya Operating expenses = 276.000 +
666.000 = 942.000 GPM = ( 1.237.500 – 942.000) / (1.237.500) x 100% GPM =
(295.500) / (1.237.500) x 100% GPM = 23,87% b. Net Profit Margin (mengukur
kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokok bank)
Rumus : NPM = (net income) / (operating income) x 100% Jawab: NPM = (216.000) /
(1.237.500) x 100% NPM = 17,45% 5. Aspek Luquidity Rasio ini digunakan untuk
mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Dengan catatan
semakin besar rasio likuiditas maka semakin likuid. Perhitungan rasio
likuiditas dengan cara: a. Quick Ratio (mengukur kemampuan bank dalam memenuhi
kewajibannya pada para deposan (pemilik giro, tabungan dan deposito) dengan
harta yang paling likuid. Rumus : QR = (Cash asset) / (Total Deposit) x 100%
Cash Assets: Kas 136.800 Rekening giro pada BI 961.200 Rekening giro pada BU
330.000 Aktiva likuid dalam valas 990.000 = 2.418.000 Deposito = Giro +
tabungan + deposito berjangka Deposito = 2.506.500 + 450.750 + 1.021.500 =
3.978.750 QR = (2.418.000) / (3.978.750) x 100% QR = 60,77% b. Cash Ratio
(mengukur kemampuan bank melunasi kewajiban yang harus segera dibayar dengan
harta likuid bank. Rumus : CR = (liquid assets) / (short term borrowing) x 100%
Liquid assets: Kas 136.800 Rekening giro pada BI 961.200 Rekening giro pada BU
330.000 Aktiva likuid dalam valas 990.000 = 2.418.000 Short term borrowing:
Rekening Giro 2.506.500 Kewajiban yang segera dibayar lainnya (Rp) 122.250
Kewajiban yang segera harus dibayar (valas) 2.176.500 = 4.805.250 Jawab: CR =
(2.418.000) / (4.805.250) x 100% CR = 50,31%
Tidak ada komentar:
Posting Komentar